Linux Ubuntu Oktober 2014

Cannonical, perusahaan di balik pengembangan distribusi Linux Ubuntu, merilis seri Ubuntu yang terbaru pada bulan Oktober ini—tepatnya, 23 Oktober, yakni Ubuntu 14.10, dengan nama kode pengembangan Utopic Unicorn. Sebagaimana jamak diketahui, angka yang disebut di belakang nama Ubuntu menandakan rilis yang diselaraskan dengan waktu peresmiannya. Angka 14 menandakan tahun Masehi 2014, sedangkan angka 10 merupakan penyebutan bulan ke-10 pada tahun yang sama.

Para pengguna Ubuntu versi sebelumnya, yakni 14.04 (14 untuk 2014, sedangkan 04 untuk bulan April—merujuk pada waktu perilisan), yang merupakan versi Long Term Service (LTS, versi yang didukung penuh oleh Cannonical dalam jangka waktu yang cukup lama, yakni sekitar 5 [lima] tahun), dapat melakukan pembaruan (upgrade) ke versi 14.10. Namun, biasanya, pengguna yang sudah cukup nyaman dengan versi LTS enggan memperbarui sistem dengan sistem non-LTS. Mereka lebih memilih menunggu versi LTS berikutnya. Hal ini sering diputuskan oleh para pengguna mainstream, yang tidak terlalu mementingkan pengalaman menggunakan antarmuka Ubuntu lebih jauh karena ada faktor kebutuhan yang paling urgen dan penting untuk diutamakan. Misalnya, para sistem administrator yang bertugas mengawal peladen (server) perusahaan mereka agar tetap stabil dan bandel (robust), tentu sedikit ‘enggan’ bermain-main dengan upgrade yang belum terlalu signifikan.

Berlainan hal jika mendapati para pengguna Ubuntu di kelas kegemaran (hobbies). Mereka tidak akan menyiakan kesempatan sedikit pun sehingga tidak melewatkan sesi upgrade sistem versi terbaru Ubuntu bulan ini. Bahkan, bisa jadi, sistem mereka diskedulkan secara asali agar dapat memperbarui sistem secara otomatis tiap harinya.

Ada kalanya, para pengguna pada ranah hobi, atau diistilahkan pula sebagai pengguna rumahan, memiliki keleluasaan berlebih untuk mencoba versi terbaru Ubuntu dengan memasang ulang (re-install). Ya, instal ulang, bukan dengan upgrade langsung melalui lumbung peranti lunak (repository, repo) yang ada. Hal ini dikarenakan mereka ingin merasakan kesegaran versi terbaru tersebut. Tidak semua pehobi melakukan hal ini, tetapi tidak sedikit yang acap menerapkannya.

Telah jamak diketahui bahwa para pehobi tidak begitu mempertimbangkan waktu yang dihabiskan di depan komputer untuk mengulik komputer, baik duduk (destop) maupun jinjing, mereka berlama-lama karena memang senang melakukannya. Nah, barangkali, saya dapat dikategorikan tipe pehobi ini. Namun, saya termasuk pehobi yang sangat malas. Karena terlalu malas, setiap aplikasi yang terpasang pun tidak begitu banyak dan kurang variatif. Maksud saya begini, ketika sudah terpasang aplikasi multimedia pemutar audio VLC, ya sudah, saya tidak mencoba untuk memasang aplikasi yang lain, seperti Amarok, Clementine, dan lain-lain.

Menurut hemat saya, 1 (satu) tugas komputasi cukup didelegasikan pada 1 (satu) aplikasi yang memadai. Jika sudah terpasang LibreOffice, untuk apa bersusah payah membeli program Microsoft Office versi terbaru (ya, di Linux pun, Anda masih dapat memasang dan menggunakan peranti lunak komersial yang berjalan di Windows dengan bantuan program Wine)? Begitulah, cukup 1 (satu) aplikasi melakukan 1 (satu) tugas yang ada. Terkecuali jika memang teramat genting diperlukan, alias memang belum ada alternatif penggantinya sehingga mau tidak mau memasangnya, meskipun dengan fungsionalitas yang tidak jauh berbeda. Namun, sejauh ini, saya merasa cukup dengan 1-1 aplikasi/program yang ada.

Memang Ubuntu tidak menyediakan fasilitas multimedia yang mendukung format ‘tertutup’ (proprietary), seperti MP3, MP4, animasi Flash, dan lain-lain. Namun, Cannonical tidak tinggal diam dengan kebutuhan pengguna pada umumnya ini, mereka mengizinkan kita untuk memasang manual dukungan-dukungan tersebut (misalnya, dengan memasang Ubuntu Restricted Extras dari Ubuntu Software Center).

Jika Anda ingin bersegera mencicipi kebutuhan multimedia Anda tanpa perlu bersusah payah memasang ini-itu, barangkali turunan (derivative) Ubuntu, seperti Mint, Deepin, dan lain-lain, dapat dijadikan alternatif. Turunan-turunan tersebut, biasanya, memang sudah dipoles sedemikian rupa. Para pengguna pun cukup dimanjakan dengan polesan kemudahan yang ada. Walaupun bejibun distro Linux turunan Ubuntu, saya masih kukuh dengan induknya, yakni Ubuntu (padahal, Ubuntu merupakan turunan Debian), karena acap kali polesan yang ada justru ‘sedikit’ menghilangkan ‘nilai’ ke-ubuntu-an. Ah, ini sekadar selera pribadi. Rasanya, asyik saja bekerja dengan Ubuntu, bukan turunannya.

Putra-putri bangsa Indonesia juga telah mengkreasi (meracik) distribusi Linux sendiri, yang fungsionalitasnya tidak kalah berdaya guna dari Ubuntu. Bahkan, diinisiasi sangat sesuai dengan kebutuhan komputasi di dalam negeri. Tersebutlah Linux BlankOn, Linux IGOS Nusantara, dan sebagainya. Terutama BlankOn, distro Linux ini digawangi oleh Yayasan Penggerak Linux Indonesia (YPLI)—salah 1 (satu) yayasan nirlaba yang teramat peduli dengan pengembangan peranti lunak sumber terbuka (open source) di Tanah Air.

Tidak terdapat banyak hal yang berubah secara signifikan pada versi Ubuntu terbaru ini. Tentu saja, versi terbaru menandaskan peranti-peranti sebelumnya yang telah diperbarui. Dari segi tampilan (antarmuka dan tata letak), tidak banyak yang berubah. Gambar latar (wallpaper) asali pun belum berubah dari versi sebelumnya. Biasanya memang demikian, perubahan dengan versi terdekat sebelumnya belum begitu mencolok perbedaannya.

Belum berakhir rilis terbaru Ubuntu pada bulan ini, sudah dicanangkan rilis yang akan didatangkan pada tahun depan, yakni rilis versi 15.04. Dengan kata lain, pengembangan untuk versi berikutnya sudah dibuka untuk umum. Jika Anda memiliki ketertarikan yang mendalam terhadap Ubuntu—apalagi, jika Anda adalah mahasiswa jurusan Teknologi Informasi, tentu hal ini dapat dijadikan ajang pengembangan keterampilan diri perihal pengembangan peranti lunak sumber terbuka Anda, sila bergabung pada milis dan forum pengembangan Ubuntu yang tersedia, yang jamak menggunakan pengantar bahasa Inggris—rasanya, bukan masalah, sekalian belajar bahasa asing ini dengan berkomunikasi ‘langsung’ dengan para penutur natifnya.

Anda ingin berkontribusi sesuatu hal pada pengembangan Ubuntu versi berikutnya? Sila merapat!

Sulit untuk Bertanya?

Pernah, pada suatu ketika, saya melayangkan kesempatan untuk bertanya kepada teman-teman mahasiswa. Namun, ada hal yang mengganjal, seakan mereka sebenarnya ingin bertanya, tetapi kurang greget untuk mengutarakannya. Hal ini tampak dari perubahan respons mimik mereka. Tentu saya tidak dapat membaca isi hati mereka, hanya dapat melihat pergerakan wajah yang terjadi, menandakan suatu hal yang entah apa.

Kalaupun ada yang bertanya, yang mengajukan pertanyaan pun masih kurang variatif. Dengan kata lain, masih didominasi oleh yang itu-itu saja. Kalau mendapati sedikit mahasiswa yang bertanya atau bahkan tidak ada yang bertanya sama sekali, saya acap berasumsi pada beberapa kemungkinan, yakni mereka memahami pokok pembicaraan atau mereka memang kebingungan (dan sungkan jujur untuk menyampaikannya—he he he).

Beberapa kali saya lecut mereka untuk ‘sedikit bersuara’, sekalipun itu sekadar bercoletah canda tidak begitu penting. Entahlah, saya lebih menyukai kelas yang ‘ramai’ dan penuh gairah. Untuk memuluskan hal ini, intonasi suara kerap saya tinggikan—kalau tidak boleh dikatakan berteriak-teriak. Jika ada suara lantang yang digemakan, cukup dapat menarik perhatian, bukan?

Aktivitas bertanya merupakan salah satu bagian aktivitas berdiskusi yang menuntut respons jawaban dari siapa pun yang menyimaknya. Kadang kala, banyak yang beranggapan sebagai berikut.

  • “Untuk apa bertanya jika hal itu malah membuat masalah?”
  • “Untuk apa bertanya terlalu banyak jika hal itu malah membuat malu (malu-maluin).”
  • “Untuk apa bertanya jika sudah tahu jawabannya?”
  • “Untuk apa bertanya jika kita dapat mencari jawabannya nanti?”
  • Lainnya?

Barangkali, ada di antara ujaran di atas terlintas Anda. Apa pun alasannya, rasanya, tidak ada salahnya bertanya. Dengan syarat, harus dapat mengendalikan diri.

Mengendalikan diri yang dimaksud adalah bagaimana kita dapat menempatkan diri ketika bertanya. Dengan kata lain, kita harus melihat konteksnya. Tidak mungkin, bukan, ketika perkuliahan berlangsung, hal yang ditanyakan berkait dengan harga sembako di pasar? Kalaupun terpaksanya ada yang sedikit slenco seperti itu, bukan masalah bagi saya, sebagai selingan. Pendek kata, saya sudah cukup senang jika ada yang bersuara.

Sudahkah Anda bertanya hari ini? Minimal kepada diri sendiri, bertanyalah!

Surel

“Kita sambung wicara lewat udara, ya Bung! Saya tunggu e-mail Anda.”

Barangkali, Anda pernah mendapati percakapan di atas, atau bahkan Anda sendiri pernah mengalaminya. Hal yang tidak dapat dilepaskan dari aktivitas keseharian kita, para pengguna jejaring maya, dalam berkomunikasi menggunakan surat elektronik (surel). Dalam bahasa Inggris, surel diistilahkan sebagai e-mail atau email. Keduanya, baikĀ e-mail maupunĀ email, dapat digunakan dalam bahasa asing tersebut. Perbedaannya hanya pada kebiasaan penggunaannya. Ketika ada orang yang bertutur dalam ranah bahasa Inggris ragam Kerajaan Inggris Britania Raya (United Kingdom, UK), mereka biasa menggunakan kosakata e-mail (ada tanda/garis pemisah: [-]). Lain halnya ketika di Amerika Serikat, orang-orang di sana cukup familiar dengan email atau hanya mail.

Masihkah Anda mengingat ketika memiliki alamat surel untuk pertama kali? Rasanya, bagi Anda yang berkelahiran `80-an atau `90-an, hal ini akan mengingatkan pada pengalaman menggunakan surel dari beberapa layanan yang mahsyur kala itu, seperti Yahoo! Mail, Hotmail oleh Microsoft, Mail.com, GMX.de dari Jerman, Lycos yang cukup populer di Inggris, dan lain-lain.

Kita tidak lupa bagaimana Tekom.net Mail, Plasa.com (kekinian telah berganti nama menjadi Plasa MSN), Indo.net.id, dan lain-lain, cukup banyak digunakan rakyat Indonesia pada masa itu–atau mungkin hingga sekarang. Gmail bukanlah pionir, tetapi cukup sukses dan mendominasi pada beberapa tahun terakhir—untuk layanan ini, saya masih sangat mengingat awal mula memiliki akun surel dari Google ini, yakni atas jasa baik Pak Aloysius Heriyanto; terima kasih, Bapak.

Kita tidak akan membahas perihal hakikat surel pada tulisan ini, sudah ada begitu banyak pustaka perihal layanan ini di internet. Fokus pembicaraan kita pada kosakata surel dalam bahasa Indonesia.

Lembaga yang menangani dan bertanggung jawab atas eksistensi bahasa Indonesia, Badan Bahasa, telah merumuskan padanan kata surel, yakni pos-el (kependekan dari pos elektronik). Namun, menurut saya, kosakata ini masih kurang dikenal oleh para pengguna internet di Indonesia.

Surel masih populer dan jamak digunakan. Barangkali, hal ini digara-garai—dengan Izin-Nya—oleh para penggemar bahasa Indonesia di media sosial dan para wartawan koran/majalah digital. Entah sejak kapan awal mulanya digaungkan hingga relatif menyebar luas pada dewasa ini sehingga surel lebih dapat mengakrab dan menjadi lazim daripada pos-el. Sebuah fenomena atau gejala yang tidak dapat disangkal. Barangkali, bisa jadi, kelak kosakata ini akan diusulkan kuat sehingga dimasukkan ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi mendatang. Mengapa tidak…?

Seminar Semester Gasal

Terdapat banyak sekali seminar dan simposium yang diselenggarakan pada semester gasal ini. Sayang sekali, saya masih belum dapat mengikuti kegiatan temu-kangen tersebut dengan baik.

Saya rasa, ketika menghadiri suatu perhelatan seminar atau semacamnya, tidak elok jika tidak memberikan kontribusi sedikit pun di samping sebagai peserta yang hanya duduk manis mendengarkan. Misalnya, dengan turut mengirim abstrak dan artikel agar dapat menjadi pemakalah atau setidaknya ada yang dapat dijadikan bahan berdiskusi (berbagi) dengan yang lain pada acara tersebut.

Yah, saya belum mempersiapkan semua itu dengan semestinya. Masih perlu ditempa untuk lebih siap lagi–insya Allah–dan berupaya mengikuti agenda-agenda tersebut pada waktu mendatang.

Sampai jumpa di perhelatan seminar saya–insya Allah!

Medium

Evan Williams, salah seorang pendiri Blogger dan Twitter, mendirikan perusahaan digital rintisan (startup) baru, yakni Medium. Medium berkonsep sederhana: berbagi gagasan dan cerita. Ia lebih dari sekadar wadah (platform) aplikasi web untuk penerbitan tulisan.

Medium memang tampak seperti wadah kegiatan tulis-menulis daring lainnya, selaiknya aktivitas ngeblog (blogging). Pada umumnya, para penulis di Medium mampu menulis dengan baik, terutama jika kita menengok tulisan-tulisan berbahasa Inggris—sayangnya, masih sedikit tulisan dalam bahasa Indonesia, jadi diharapkan ketersediaan dukungan tulisan-tulisan dalam bahasa Indonesia (atau kita ajak para pengguna Medium belajar bahasa kita?). Hal ini dikarenakan terdapat beberapa fitur penunjang kualitas tulisan di Medium menjadi optimal, di antaranya sebagai berikut.

Saran Penyuntingan
Setiap pos (tulisan yang ditayangkan) pada Medium dapat disarankan untuk disunting oleh setiap pengguna. Artinya, pada bagian tulisan yang dirasa perlu diluruskan atau diperbaiki, pengguna lain cukup menambahkan saran atau usulan kepada penulis asalinya dengan mengklik tanda (+). Hal ini merupakan fitur yang cukup bermanfaat karena setiap orang dapat memberikan tanggapan (umpan balik) dan rekomendasi untuk meningkatkan kualitas tulisan. Misalnya, secara tidak sengaja, kita menuliskan kata-kata salah eja pada sebuah paragraf, pengguna yang peka pun dapat langsung mengingatkan kita melalui fitur ini.

If the other users or readers found an incoherence, in-cohesion, and/or incomprehension of the posts, they can put corrections and/or suggestions to the writers. Then, the writers can accept or ignore them.

Durasi Membaca
Para pembaca Medium dapat melihat (mendapati) durasi membaca/keterbacaan pada masing-masing tulisan yang ditayangkan. Fitur ini sungguh berguna mengingat tidak setiap orang memiliki waktu yang sama sehingga mereka dapat mengefektifkan waktu mereka dengan baik.

Namun, Bukan Blog
Memang benar, di Medium, Anda dapat leluasa menulis karena persyaratannya cukup memudahkan dan ditautkan dengan akun Twitter dan Facebook Anda. Namun, perlu diingat bahwa Medium bukanlah Blogger, WordPress, Tumblr, dan/atau layanan ngeblog lainnya dewasa ini. Nyaris serupa, tetapi berbeda. Sedikit.

Mm, lebih baik Anda langsung merujuk ke Medium. Sila coba! Lalu, sila berbagi pengalaman memanfaatkan Medium di sini. Saya tunggu cerita-cerita Anda.

Tesis

Sebagaimana jamak diketahui, belum lengkap rasanya jika mahasiswa program magister (master) belum menyelesaikan kewajiban akhirnya, yaitu meneliti untuk kemudian diramu dalam rupa tesis. Berapa lama pun ia menempuh studi jenjang strata dua (S-2), tesis harus tetap difinalkan.

Tidak jauh berbeda dengan skripsi, tesis merupakan laporan penelitian yang dilakukan mahasiswa sebagai wujud tanggung jawabnya di dunia keilmuan pada jenjang perguruan tinggi. Bedanya dengan skripsi, kajian yang disajikan dalam tesis bersifat lebih mendalam dan lebih luas di samping tetap mengandung aspek kebaruan. Aspek kebaruan tidak hanya seputar topik yang diangkat untuk diteliti, tetapi pula didukung sumber-sumber pustaka terkini dan diharapkan memiliki kontribusi yang lebih baik.

Barangkali, tesis tidak sekompleks disertasi doktoral pada jenjang strata tiga (S-3), tetapi khazanah konsep penelitian dalam tesis dapat dijadikan acuan untuk menyusun disertasi. Dari tesis yang terkonsep bagus, tentu dapat diteruskan pada disertasi yang lebih dalam telaah objek dan subjek penelitiannya.

Permasalahan yang sering dihadapi teman-teman dalam menyusun tesis adalah bukan perihal proses pemilihan topik yang akan diangkat sebagai permasalahan penelitian, melainkan jamak terjatuh pada khazanah pustaka. Topik atau judul penelitian boleh bombastis, tetapi tentu hal ini harus diiringi dengan eksekusi yang mumpuni. Ekseskui yang dimaksud bukan sekadar bagaimana meramu kata-kata yang baik, tidak dilupakan pula konsultasi aktif dengan para pembimbing atau pihak yang berkompeten yang kiranya dapat memberi masukan, bukan juga hanya penelitian yang dilaksanakan dengan penuh sukacita, melainkan pula tidak abai untuk memperkaya sumber-sumber pustaka yang mendukung.

Sumber pustaka yang diharapkan dalam tesis tidak hanya memiliki sifat kebaruan (aktual, faktual), tetapi juga pustaka yang lebih luas, salah satunya melalui jurnal-jurnal, terutama jurnal-jurnal internasional yang jamak berbahasa asing Inggris. Nah, salah satu permasalahan yang acap muncul adalah di sini, terutama bagi mahasiswa jurusan nonbahasa Inggris, sungguh memerlukan motivasi yang teramat tinggi untuk sekadar meramban jurnal-jurnal internasional yang berkaitan dengan topik tesisnya. Senyampang seakan tidak begitu mendalami isi jurnal yang ditelaah, asal-asalan dalam memahami isinya.

Baca-baca Jurnal Penelitian!
Sebenarnya, tidak terlalu sulit untuk mengerti jurnal-jurnal penelitian dalam bahasa Inggris, hanya perlu kemauan dan kesungguhan. Hal ini juga tidak memerlukan proses dan waktu yang lama alias hanya membutuhkan pembiasaan. Dalam membaca-baca jurnal-jurnal tersebut, tidak perlu setiap kata diterjemahkan secara harfiah kata demi kata, cukup dengan memindai sekilas dan/atau membaca cepat. Artinya, perlu sedikit kecermatan untuk mendapati kata-kata kunci. Paling pol perlu perhatian lebih pada latar belakang penelitian dan simpulannya.

Memahami latar belakang dimaksudkan untuk mengetahui perian dasar yang melatarbelakangi penelitian. Dari situ, akan diketahui hal-hal apa saja yang menjadi landasan peneliti jurnal tersebut dalam merumuskan masalah pada penelitiannya. Acap kali, uraian subbab pendahuluan ini diawali dari hal-hal yang bersifat umum yang muara akhirnya mengerucut pada topik yang diangkat.

Sebuah penelitian, di samping terdapat hal yang dijadikan latar belakang masalah, tentu saja terdapat rumusan masalah. Guna rumusan masalah adalah untuk menentukan beberapa poin yang mendukung kajian topik penelitian. Dari kedalaman masalah yang dirumuskan, juga cukup dapat diketahui ke mana arah pembahasannya. Perlu diperhatikan, tidak semua hal dari latar belakang masalah dapat dibuat rumusan masalahnya agar pembahasan penelitian tidak terlalu melebar ke mana-mana. Rumusan masalah yang ada memudahkan fokus penelitian, yang dijawab pada simpulan. Bukan masalah pula, sebenarnya, jika mahasiswa selaku pembaca jurnal langsung memusatkan perhatian pada simpulan saja, tetapi alangkah lebih eloknya jika ia berkenan membaca beberapa bagian (bab) penting yang tidak kalah penting.

Tidak lupa, ketika menelaah jurnal penelitian, untuk diperhatikan referensi pustaka yang disertakan. Sumber pustaka yang mumpuni sungguh sangat membantu kualitas penelitian yang disajikan. Barangkali, pustaka yang ada dapat dijadikan acuan untuk dicari babonnya sehingga menambah kuantitas, juga bisa jadi kualitas, penelitian tesis mahasiswa.

Lalu, Masalahnya Apa…?
Tidak pernah kering nasihat: semua kembali pada masing-masing individu. Masalah terberat memang terletak pada pelaku penelitian tesis, yaitu mahasiswa itu sendiri, kerap kali didapati mereka kurang bergairah membaca. Permasalahan membaca ini bukan hal yang tabu di mata para dosen atas mahasiswa mereka. Sudah begitu jamak diketahui oleh mahasiswa konsep: semakin besar masukan (‘input’), semakin besar pula keluarannya (‘output’). Artinya, jika mereka banyak membaca buku atau jurnal, tentu khazanah pemikiran mereka akan menjadi kaya pula, dan hal ini dapat cukup membantu mereka dalam menyusun tesis.

Banyak kalangan membilang bahwa aktivitas membaca merupakan kegiatan yang teramat tidak mudah untuk dilakukan, apalagi dibiasakan. Barangkali, mereka suka membaca, tetapi membaca berita atau bahan-bahan bacaan yang ringan-ringan. Masih mending, mungkin, mau membaca artikel-artikel, tetapi kadar artikel yang dibaca memiliki bobot yang sangat kurang, atau bahkan tidak bermanfaat sama sekali bagi dirinya. Lebih-lebih jika membaca jurnal penelitian, terutama ragam internasional.

Lain individu, lain pula permasalahannya. Beberapa hal yang diuraikan di atas memang bukan harga mutlak, melainkan sekadar temuan yang memiliki kecenderungan (umum terjadi, minimalnya yang pernah penulis alami sendiri–he he he).

Tidak ada kata terlambat untuk lebih baik. Bersegeralah untuk fokus menyelesaikan tesis Anda!

Menunggu Waktu

Salah satu hal yang tidak ringan dalam kehidupan ini adalah bertanggung jawab atas segala hal yang dilakukan, seperti: berbicara/mengobrol, melihat, menyimak/mendengar, merasakan, dan lain-lain). Pendek kata, apa pun yang manusia lakukan di dunia ini akan Dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sudahkan kita siap dengan hal ini? Semestinyalah ada sesuatu yang perlu kita kontribusikan baik untuk kehidupan ini, terutama jika kontribusi itu diniatkan ibadah kita sebagai hamba-Nya Azza wa Jall.

Life musts go on. Seringkali kita melewati waktu yang Diberikan-Nya tanpa kita sadari apakah waktu yang terlewati itu telah kita isi dengan kebermanfaat yang berlimpah atau sekadar terlewati begitu saja. Sebagai Muslim, tentu hendaknya kita tidak abai untuk senantiasa mengikuti Panduan-Nya yang didasarkan pada Quran dan Sunnah (dengan pemahaman Salaful Ummah). Kita tidak dapat menunggu waktu yang datang tanpa peringatan, kita harus mengisinya. Ibarat waktu Dihadiahkan-Nya untuk kita agar kita dapat memanfaatkannya sebagai kesempatan yang ada untuk membentuk diri kita menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu. Apalagi, jika konsekuensi menjalani waktu itu kita lalui sebagai ajang dakwah kita untuk menyebarkan Kalimat-Nya.

Kadang kala, kita beranggapan bahwa pengetahuan kita perihal Islam masih sangat minim. Namun, para alim mengingatkan bahwa sedikit hal bermanfaat yang kiranya dapat dibagikan kepada sesama berdampak baik dalam kehidupan. Mungkin saja, dampak atau perubahan yang terjadi memang tidak (segera) tampak sesuai yang diharapkan, tetapi perlu diingat bahwa setidaknya manfaat yang diberikan diniatkan dan ditujukan karena-Nya semata.

Sudahkah kita menjadi bermanfaat hari ini…? Semoga Allah Menganugerahi kita taufik (sukses)! Amin.

Linguistik: Prakata Ringkas

Komunikasi merupakan salah satu wadah aktivitas manusia dalam rangka berhubungan antarsesama mereka. Hal ini bukan sekadar soal saling berkebutuhan lantaran beban sosial yang harus mereka pikul, melainkan pula keadaan yang mau-tidak-mau mereka mau melakukannya.

Proses komunikasi yang terjadi melibatkan, sedikitnya, terdiri dari sepasang manusia yang bewicara. Entah mengapa selalu saja ada yang berinisiatif untuk mengawali komunikasi terlebih dahulu. Penggagas komunikasi mula-mula ini acap disebut sebagai komunikator atau penutur (karena yang mengawali tindak tutur), sedangkan partisipan (persona) dikenal dengan istilah komunikan atau mitra tutur (karena menjadi teman bicara penutur).

Awal Mula Bahasa?
Tuturan-tuturan yang bergema antarmanusia semula berupa tuturan lisan. Mereka dapat saling memahami karena saling berlisan-lisankan (memainkan lisan-lisan) mereka dalam bentuk bunyi-bunyi ujar. Bunyi-bunyi lisan-lisan mereka mainkan agar antarsesama mereka dapat saling memahami maksud dan tujuan didasarkan pada keadaan-keadaan yang menghiasi peristiwa tutur mereka (konteks), tidak begitu dipusingkan peranan mereka sebagai penutur atau mitra tutur. Pada akhirnya, mereka saling bersepakat atas bunyi-bunyi yang mereka ujarkan dan konteks tuturan mereka sebagai bahasa.

Masa berdentang sedemikian lekasnya, segelintir manusia menggelisahkan bahasa-bahasa. Tidak diketahui kegelisahan tersebut didasarkan hal apa. Barangkali, bahasa-bahasa yang tersebar di kalangan mereka yang berbeda-beda dikarenakan asal-muasal kondisi lokasi masing-masing mereka yang beraneka sehingga perlu adanya studi klinis pemetaan bahasa-bahasa tersebut. Bisa jadi pula hal ini terinspirasi hanya soal perlu adanya pengkajian bahasa. Akan tetapi, terlepas dari hal-hal itu, tidak dimungkiri bahwa itu semua dapat terjadi lantaran Izin Allah Semata.

Terpaksa atau bersenang hati, sebagian manusia memikirkan bahasa. Hal pertama yang mereka lakukan adalah mendata bahasa-bahasa lisan (bunyi-bunyi tutur) dengan cara metranskripsikannya. Transkripsi bahasa adalah kegiatan mengalihkan (memindahkan, mewujudkan) bahasa lisan ke dalam bentuk tulis. Hal ini dilakukan agar bahasa yang semula berbentuk bunyi ujaran tersebut dapat dilihat secara kasat mata. Tidak ada yang instan dalam kegiatan transkripsi bahasa ini sepanjang kehidupan manusia. Kegiatan ini selalu saja diwarnai dengan pelbagai suka-duka oleh para pemerhati bahasa, baik pemerhati tersebut mengatasnamakan lembaga tertentu maupun sekadar hasrat pribadi pecinta bahasa.

Sifat bahasa yang dinamis tidak serta-merta menyebabkan aktivitas transkripsi bahasa terhenti. Agenda kegiatan tersebut diiringi dengan sedikit demi sedikit dan serius untuk lebih mendalami bahasa. Kemudian, berkembanglah pelbagai banyak perkataan atau pendapat dari banyak orang pebelajar bahasa. Sebagaimana sifat bahasa, pendapat-pendapat tersebut juga tidak mengendap statis atau terpenjara pada aksioma-aksioma atau polutan-polutan tertentu. Hingga pada muara simpulan (akhir, tetapi bukan berarti berakhir: “Last, but not least.“) dari para pemerhati bahasa dengan pendapat-pendapat yang disertai argumentasi kuat dan disepakati kebenaran ilmunya sehingga melahirkan khazanah teoretik bahasa. Para pemerhati yang pendapatnya dipegang sering dijuluki ahli/ pakar bahasa atau bahasawan (munsyi).

Dapat disintesiskan bahwa bahasa-bahasa di dunia dikaji sedemikian rupa. Awal mula pengkajian bahasa didasarkan dari bahasa lisan yang diujarkan manusia yang ditranskripsikan. Setelah diperoleh data transkripsi ujaran-ujaran bahasa tersebut, kemudian ditelaah dari pelbagai sudut pandang. Sudut pandang yang bermunculan seiring berjalannya waktu melahirkan pula warna-warni yang semakin menambah khazanah teoretik studi bahasa secara spesifik. Tersepakatilah ilmu khusus yang mengkaji bahasa-bahasa dengan istilah linguistik.

Ilmu Bahasa: Linguistik
Linguistik merupakan ilmu yang mengkaji bahasa. Banyak munsyi menamakan linguistik sebagai linguistik umum (dengan menambah kata umum setelah kata linguistik) karena sifatnya yang masih universal (masih perlu dipilahkan/ diturunkan lagi). Linguistik dicabangkan menjadi 2 (dua), yaitu mikrolinguistik dan makrolinguistik.

Mikrolinguistik merupakan cabang linguistik yang mengkaji bahasa pada ranah teoretik struktur bahasa. Studi linguistik ini lebih ditekankan pada apa dan bagaimana bahasa lisan dan tulis dibidik dari sudut pandang bentuk dan fungsinya. Dengan kata lain, dalam kajian mikrolinguistik, bahasa dipandang sebagai objek yang fundamental teoretis. Ibaratnya, ia dikaji dari formulasi temuan-temuan munsyi mula-mula atau belakangan, selayaknya belajar matematika melalui rumus-rumusnya (hal ini sekadar pengibaratan secara garis besar, bukan kesejatiannya). Lain halnya dengan makrolinguistik yang mengkaji bahasa pada ranah terapan (praktik) ketika bahasa dituturkan dalam wujud nyata dengan melihat konteksnya.

Pada hakikatnya, baik mikrolinguistik maupun makrolinguistik, keduanya tidak dapat dipisahkan ketika proses pengkajiannya. Pemilahan kajian mikro-makro ini dilakukan sekadar untuk memudahkan pendalaman studinya, bukan sepenuhnya memisahkan dan membedakan kepentingan ilmunya. Kedua cabang linguistik ini sangat penting untuk didalami secara beriringan karena antara satu dan lainnya saling melengkapi.

Mikrolinguistik diklasifikasikan ke dalam banyak cabang, di antaranya: fonologi (studi ihwal bunyi ujar), morfologi (mengkaji proses pembentukan kata), sintaksis (memelajari struktur kalimat), semantik (menelaah ujaran secara maknawi), dan wacana (mendalami paragraf dan tulisan secara menyeluruh). Sementara itu, makrolinguistik dikaji dari tidak kalah banyak turunan studinya, seperti: pragmatik (telaah teks-koteks dan konteks, serta kesantunan berbahasa), psikolinguistik (pengkajian perilaku berbahasa manusia, lebih disukai pada pengkajian pemerolehan bahasa), sosiolinguistik (studi bahasa didasarkan pada aspek penggunaan bahasa pada ranah interaksi sosial), neurolinguistik (bahasa didalami dari sudut pandang medis: saraf otak), dan lain-lain.

Berdasar pada uraian di atas, pendek kata, dapat disampaikan bahwa bahasa bukan sekadar sarana penting dalam kehidupan manusia, ia bahkan dapat diselidiki dan diteliti lebih dalam lagi melalui ilmu bahasa (linguistik), terutama melalui cabang-cabang ilmunya. Salah besar jika masih ada sebagian kalangan yang memandang sebelah mata berkenaan dengan studi kebahasaan, apalagi studi bahasa Indonesia. Sebagai bagian dari bangsa besar Indonesia, hendaklah patut berbesar jiwa untuk tidak abai menyibukkan diri dengan memelajari bahasa Indonesia.

Selamat mendalami ilmu bahasa, dan tidak lupa bahasa Indonesia, dengan baik lebih lanjut!

VICKISASI..!?

A: “Saya masih daring pada gawai. Nanti, apabila mau luring, saya kabari, kita sambung wicara melalui perpesanan WhatsApp insya Allah. Semoga peladen yang digunakan kemarin masih stabil hingga lusa, ya Mbak?”
B: “What..?? Daring..?! Luring..?! Gawai..?! Ihhh, Mas Latip termakan Vickisasi. Alay beud.”

Heran mengapa berupaya berbahasa Indonesia masih terasingkan oleh saudara sepenutur. Yang menjadi persoalan para pecinta bahasa Indonesia adalah bukan bahasa daerah atau bahasa asing (Arab, Inggris, dan lain-lain) yang membahana, melainkan bahasa santai (yang seolah mewakili bahasa Indonesia) yang terlazimkan para muda-mudi kita, bahkan para sesepuh yang mengikuti tren zaman.

Berdasar temuan di lapangan (terutama di jejaring maya), masih sedikit yang menuturkan bahasa asing atau daerah. Coba buka mata lebar-lebar dan tengoklah ke dalam, betapa banyak yang menggunakan bahasa Indonesia ragam santai tidak pada tempatnya dan begitu dipermisifkan. Kurang tepat mengeja, dimaafkan. Kurang tepat mengetik, dimaafkan. Berlebihan menggunakan singkatan tidak pada tempatnya, dimaafkan. Ada sisi baiknya, kita adalah bangsa yang pemaaf dan bermudah-mudahan dalam, “Tidak apa-apa.”

Rasanya, lebih baik menggunakan bahasa daerah atau asing dengan mengikuti kaidah dan “empan papan” berbahasanya daripada masih enggan menghargai bahasa Indonesia (dari enggan berhati-hati berdiksi dalam ragam bahasa lisan hingga lalai tanda baca dalam ragam bahasa tulis santai sekalipun). Contohlah bangsa Jepang! Hingga kekinian, mereka menggunakan bahasa Jepang nyaris ‘sempurna’ pada setiap kesempatan, sekalipun dalam ruang santai di internet. Coba kalau mereka lalai ‘menggores’ salah satu silaba saja tentu mencuatkan pemaknaan maksud tuturan yang berbeda dari yang semestinya.

Saya pribadi juga acap melakukan kelalaian berbahasa Indonesia. Status ini sekadar antarkita, sesama penutur bahasa Indonesia, untuk saling mengingatkan. Terlepas dari itu, saya mendapat temuan–yah, temuan pribadi, masih perlu dikaji lebih jauh lagi–bahwa orang yang bahasa Indonesianya baik seringkali dapat berbahasa daerah dan berbahasa asing yang baik pula.

Ya Allah, Ya Rabbi, Ya Wahhab, Selamatkanlah bahasa Indonesia dari ‘kejahatan’ yang kami perbuat…!

Kerikil Masa

Hari-hari begitu lekas bergegas mendekat menghampiri ujungnya. Namun, kita masih terlalu santai mendapati mati, yang seakan memang hanya sebuah kata berakhirnya semua hal. Sesuatu yang tak dihiraukan. Atau, lupa cara menghiraukannya?

Kita manusia, masih seperti manusia biasanya. Jika memang ada yang luar biasa, itu hanya dibangun di atas prasangka manusia hidup. Sedangkan, manusia yang mati, bagaimana ia memprasangkakan manusia yang luar biasa itu?

Manusia, manusia. Apa yang kalian hasrati dari dunia? Semestinya dunia menjadi ketapel amal di Mata-Nya. Berkali Dia Mengingatkan dalam pelbagai banyak serbaneka ragam Karunia-Nikmat-Nya. Namun, kita sering abai, tak acuh, bahkan mematikan hati sendiri (sehingga tak merasa bersalah kepada-Nya sedikit pun).

Kita terlalu disibukkan dengan keindahan menikmati dan menjalani keduniawian, meletakkan keakhiratan berbatas pada niat semata, “Yang penting, niatnya baik.” Apakah, jika para pendahulu mengetahui keadaan kita sekarang, bakal bergumam, “Sungguh menyedihkan!”..!?

Sya’ban sudah terinjakkan beberapa hari. Ramadan yang terasa begitu dekat sepantasnyalah menjadi alarm mematikan sehingga membuat kita gelisah dan meratap kepada-Nya memohon untuk Diizinkan-Nya bersemuka dengan Bulan Penuh Kegembiraan. Atau, ianya masih dirasa hambar, tidak begitu istimewa karena memang, “Mau bagaimana lagi? Jika sudah waktunya puasa, ya puasa,”..!?