UAS Semester Genap 2013/2014

Alhamdulillah, tinggal menghitung jam, teman-teman mahasiswa Universitas PGRI Semarang bakal menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS), setelah menjalani Ujian Tengah Semester (UTS) pada beberapa bulan lalu. UAS pada semester genap kali ini begitu berbeda dari UAS sebelumnya. Salah satunya adalah UAS yang akan diawali pada hari Kamis (10 Juli 2014) besok–insya Allah–bertepatan dengan hari ke-12 bulan penuh berkah Ramadan 1435 Hijriah–selamat berpuasa, ya.

Terkhusus untuk mata kuliah yang saya ampu, yakni Teori Belajar Bahasa (TBB) dan Bahasa Indonesia (BI, mata kuliah umum pengembangan kepribadian untuk program studi di luar Program Studi (Progdi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia [PBSI]), soal yang diujikan tidak begitu menyulitkan. Dengan kata lain, teman-teman mahasiswa sekadar perlu mencermati kata-kata yang diajukan dalam soal.

Jamak soal yang disajikan bersifat pemahaman. Terutama TBB, barangkali memang ada sedikit hafalan, tetapi hal itu bersifat tidak mutlak. Tetaplah tenang dan santai ketika mengerjakannya, mudah-mudahan Dibukakan-Nya pintu pencerahan dari-Nya.

Tolong janganlah bekerja sama antarsesama teman dalam satu ruang ujian! Lebih baik mengerjakan sendiri, dan percaya dirilah! Hal ini bukan hanya soal waktu ini adalah bulan Puasa sehingga perlu menahan diri dari hal-hal yang melanggar aturan, melainkan dimaksudkan untuk kebaikan teman-teman mahasiswa pada masa mendatang.

Kisi-kisi tidak terlalu signifikan untuk diberikan. Hal yang terpenting bagi teman-teman mahasiswa adalah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Untuk mata kuliah TBB, sila ingat lagi rupa soal terdahulu yang kiranya dapat dimanfaatkan dengan semestinya sebagai bahan belajar. Sementara itu, untuk mata kuliah BI, cukup mengingat-ingat kembali pada beberapa hal yang pernah disampaikan pada perkuliahan. Tidak begitu berat bobot soal untuk BI, tetapi tetap cermatilah dengan saksama setiap hal yang diajukan untuk dikerjakan, dan tidak lupa untuk menggunakan bahasa Indonesia yang semestinya.

Semoga pelaksanaan UAS dan hasil pekerjaan teman-teman mahasiswa Universitas PGRI Semarang Diberkahi-Nya dan memuaskan, semoga sukses!

Tesis

Sebagaimana jamak diketahui, betapa pun luar biasa mahasiswa program magister/master pascasarjana berprestasi, baik dalam perkuliahan maupun kegiatan di luar kampus, belum lengkap rasanya jika ia belum menyelesaikan kewajiban akhirnya, yaitu meneliti untuk kemudian diramu dalam rupa tesis. Berapa lama pun ia menempuh studi jenjang strata dua (S-2), belum dapat dikata berhasil jika ia belum memfinalkan tesisnya.

Tidak jauh berbeda dengan skripsi, tesis merupakan laporan penelitian yang dilakukan mahasiswa sebagai wujud tanggung jawabnya di dunia keilmuan pada jenjang perguruan tinggi. Bedanya dengan skripsi, kajian yang disajikan dalam tesis bersifat lebih mendalam dan lebih luas di samping tetap mengandung aspek kebaruan. Aspek kebaruan tidak hanya seputar topik yang diangkat untuk diteliti, tetapi pula didukung sumber-sumber pustaka terkini dan diharapkan memiliki kontribusi yang lebih baik.

Barangkali, tesis tidak sekompleks disertasi doktoral pada jenjang strata tiga (S-3), tetapi khazanah konsep penelitian dalam tesis dapat dijadikan acuan untuk menyusun disertasi. Dari tesis yang terkonsep bagus, tentu dapat diteruskan pada disertasi yang lebih dalam telaah objek dan subjek penelitiannya.

Permasalahan yang sering dihadapi teman-teman dalam menyusun tesis adalah bukan perihal proses pemilihan topik yang akan diangkat sebagai permasalahan penelitian, melainkan jamak terjatuh pada khazanah pustaka. Topik atau judul penelitian boleh bombastis, tetapi tentu hal ini harus diiringi dengan eksekusi yang mumpuni. Ekseskui yang dimaksud bukan sekadar bagaimana meramu kata-kata yang baik, tidak dilupakan pula konsultasi aktif dengan para pembimbing atau pihak yang berkompeten yang kiranya dapat memberi masukan, bukan juga hanya penelitian yang dilaksanakan dengan penuh sukacita, melainkan pula tidak abai untuk memperkaya sumber-sumber pustaka yang mendukung.

Sumber pustaka yang diharapkan dalam tesis tidak hanya memiliki sifat kebaruan (aktual, faktual), tetapi juga pustaka yang lebih luas, salah satunya melalui jurnal-jurnal, terutama jurnal-jurnal internasional yang jamak berbahasa asing Inggris. Nah, salah satu permasalahan yang acap muncul adalah di sini, terutama bagi mahasiswa jurusan nonbahasa Inggris, sungguh memerlukan motivasi yang teramat tinggi untuk sekadar meramban jurnal-jurnal internasional yang berkaitan dengan topik tesisnya. Senyampang seakan tidak begitu mendalami isi jurnal yang ditelaah, asal-asalan dalam memahami isinya.

Sebenarnya, tidak terlalu sulit untuk mengerti jurnal-jurnal penelitian dalam bahasa Inggris, hanya perlu kemauan dan kesungguhan. Hal ini juga tidak memerlukan proses dan waktu yang lama alias hanya membutuhkan pembiasaan. Dalam membaca-baca jurnal-jurnal tersebut, tidak perlu setiap kata diterjemahkan secara harfiah kata demi kata, cukup dengan memindai sekilas dan/atau membaca cepat. Artinya, perlu sedikit kecermatan untuk mendapati kata-kata kunci. Paling pol perlu perhatian lebih pada latar belakang penelitian dan simpulannya.

Memahami latar belakang dimaksudkan untuk mengetahui perian dasar yang melatarbelakangi penelitian. Dari situ, akan diketahui hal-hal apa saja yang menjadi landasan peneliti jurnal tersebut dalam merumuskan masalah pada penelitiannya. Acap kali, uraian subbab pendahuluan ini diawali dari hal-hal yang bersifat umum yang muara akhirnya mengerucut pada topik yang diangkat.

Sebuah penelitian, di samping terdapat hal yang dijadikan latar belakang masalah, tentu saja terdapat rumusan masalah. Guna rumusan masalah adalah untuk menentukan beberapa poin yang mendukung kajian topik penelitian. Dari kedalaman masalah yang dirumuskan, juga cukup dapat diketahui ke mana arah pembahasannya. Perlu diperhatikan, tidak semua hal dari latar belakang masalah dapat dibuat rumusan masalahnya agar pembahasan penelitian tidak terlalu melebar ke mana-mana. Rumusan masalah yang ada memudahkan fokus penelitian, yang dijawab pada simpulan. Bukan masalah pula, sebenarnya, jika mahasiswa selaku pembaca jurnal langsung memusatkan perhatian pada simpulan saja, tetapi alangkah lebih eloknya jika ia berkenan membaca beberapa bagian (bab) penting yang tidak kalah penting.

Tidak lupa, ketika menelaah jurnal penelitian, untuk diperhatikan referensi pustaka yang disertakan. Sumber pustaka yang mumpuni sungguh sangat membantu kualitas penelitian yang disajikan. Barangkali, pustaka yang ada dapat dijadikan acuan untuk dicari babonnya sehingga menambah kuantitas, juga bisa jadi kualitas, penelitian tesis mahasiswa.

Tidak pernah kering nasihat: semua kembali pada masing-masing individu. Masalah terberat memang terletak pada pelaku penelitian tesis, yaitu mahasiswa itu sendiri, kerap kali didapati mereka kurang bergairah membaca. Permasalahan membaca ini bukan hal yang tabu di mata para dosen atas mahasiswa mereka. Sudah begitu jamak diketahui oleh mahasiswa konsep: semakin besar masukan (‘input’), semakin besar pula keluarannya (‘output’). Artinya, jika mereka banyak membaca buku atau jurnal, tentu khazanah pemikiran mereka akan menjadi kaya pula, dan hal ini dapat cukup membantu mereka dalam menyusun tesis.

Banyak kalangan membilang bahwa aktivitas membaca merupakan kegiatan yang teramat tidak mudah untuk dilakukan, apalagi dibiasakan. Barangkali, mereka suka membaca, tetapi membaca berita atau bahan-bahan bacaan yang ringan-ringan. Masih mending, mungkin, mau membaca artikel-artikel, tetapi kadar artikel yang dibaca memiliki bobot yang sangat kurang, atau bahkan tidak bermanfaat sama sekali bagi dirinya. Lebih-lebih jika membaca jurnal penelitian, terutama ragam internasional.

Lain individu, lain pula permasalahannya. Beberapa hal yang diuraikan di atas memang bukan harga mutlak, melainkan sekadar temuan yang memiliki kecenderungan (umum terjadi, minimalnya yang pernah penulis alami sendiri–he he he).

Tidak ada kata terlambat untuk lebih baik. Bersegeralah untuk fokus menyelesaikan tesis Anda!

Menunggu Waktu

Salah satu hal yang tidak ringan dalam kehidupan ini adalah bertanggung jawab atas segala hal yang dilakukan, seperti: berbicara/mengobrol, melihat, menyimak/mendengar, merasakan, dan lain-lain). Pendek kata, apa pun yang manusia lakukan di dunia ini akan Dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sudahkan kita siap dengan hal ini? Semestinyalah ada sesuatu yang perlu kita kontribusikan baik untuk kehidupan ini, terutama jika kontribusi itu diniatkan ibadah kita sebagai hamba-Nya Azza wa Jall.

Life musts go on. Seringkali kita melewati waktu yang Diberikan-Nya tanpa kita sadari apakah waktu yang terlewati itu telah kita isi dengan kebermanfaat yang berlimpah atau sekadar terlewati begitu saja. Sebagai Muslim, tentu hendaknya kita tidak abai untuk senantiasa mengikuti Panduan-Nya yang didasarkan pada Quran dan Sunnah (dengan pemahaman Salaful Ummah). Kita tidak dapat menunggu waktu yang datang tanpa peringatan, kita harus mengisinya. Ibarat waktu Dihadiahkan-Nya untuk kita agar kita dapat memanfaatkannya sebagai kesempatan yang ada untuk membentuk diri kita menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu. Apalagi, jika konsekuensi menjalani waktu itu kita lalui sebagai ajang dakwah kita untuk menyebarkan Kalimat-Nya.

Sometimes, we think that our knowledge of Islam still dry or poor so badly. But, a little benefit thing in this life can make good changes. Perhaps, the changes are not shown soon as we want to. Because the benefits of them only Known by Allah Ta’ala.

Would we please to do benefit things in this life…? May Allah Grants us success!

Salam hangat.

 

Slackware and/or Ubuntu?

I have remembered few years ago when I learned Linux firstly. It was happened when I was senior high school student at Karanganyar, a small town where included in Surakarta resident, with my Kerohanian Islam (Rohis) friends especially.

Not much Linux distributions (distros) that I ever used, i.e.: SuSE, Slackware, Mandrake, Debian, ever with FreeBSD and OpenBSD, and others. Especially SuSE and Slackware, both are KDE distros (that’s one of the reasons why I join KDE community).

Talking about Slackware, it bringing back me memories about how to type well and knowing our Linux system deeply. It is very hard at first, or may be will make you cry (if you never touch Linux before), but it will make you a gentlemen who really understand with your own system. Yes, Slackware quite enough good for beginners too, they can learn the Linux system very well. After you wear graduation robe from Slackware campus, congratulation, let you handle other distros easily–inshaa’ Allah.

Now, on my daily basis, mostly I used to work on Ubuntu. But, I won’t forget Slackware, and I planted it on Ubuntu virtually. Yes, Slackware is still my hobby and I love to be part of Indonesia Slackware community.

At recent time, I think I need to write my own part on Planet Slackware Indonesia. May Allah Helps me! Aameen.

Best wishes and warm regards.

 

VLC

Wonder why I prefer to use VLC for my multimedia needs, especially for watching videos and listening audios. May be it is just my felt that I love it. VLC is an open source software, this is the point that I concern about. Other things, I just like to use only VLC for my audio-video application on my Ubuntu.

Installing VLC on Ubuntu is very easy. There are so many tips and tricks around the web that you can find how to install it on Ubuntu or other Linux distributions. Especially on Ubuntu, these Terminal steps may help you.

sudo add-apt-repository ppa:videolan/vlc-stable

sudo apt-get update && sudo apt-get install vlc

Happy VLCing!

Best wishes and warm regards.